starbucks-lilik-agung

Starbucks Coffee Suatu Senja “Kumpulan Cerpen”

Menyimak kumpulan cerpen karya AM Lilik Agung ini kita dibawa pada sebuah realita kehidupan dikota besar yang berlimpah dengan berbagai macam permasalahan, apalagi namanya kalau bukan kota Jakarta. Penulis cerpen ini sangat pas menempatkan tatabahasa dan diksi untuk mengartikulasikan apa yang tersimpan dalam benak seorang penulis.

Patut kita beri aplause dan apresiasi yang tinggi pada karya kumpulan cerpen ini. Mengapa demikian ? Bung Lilik Agung yang biasa dikenal adalah seorang penulis buku dan artikel bisnis yang sangat produktif. Apa yang biasa beliau tulis adalah data dan analisa. Dan semua karya tulis tersebut adalah hasil telaah beliau terhadap data-data dan pola perkembangan dunia bisnis yang sangat nyata dan realistis.

Dan ketika beliau menyajikan kepada kita sekumpulan cerpen pop, maka kenyataan dan realita realita tersubut berubah menjadi sebuah fiksi dan bayang-bayang. Pembaca dihadapkan pada kehidupan setengah nyata dan setengahnya lagi adalah fiksi belaka. Dimana seluruh cerpen ini dikemas dalam gaya bahasa yang tidak membosankan dan kontemporer. Disinilah kita berikan aplause dan apresiasi tersebut.

Selain beliau produktif dalam megupas analisa bisnis tetapi beliau juga piawai dalam menghasilkan karya fiksi seperti sekumpulan cerpen ini. Sangat jarang kita temui penulis yang demikian piawainya menggabungkan antara ide bisnis dan ide fiksi menjadi sebuah karya yang berbobot.

Setidaknya saya mendapatkan beberapa catatan setelah habis melahap isi buku ini. Kita akan tersudut pada beberapa istilah atas isi cerita, ketokohan dan kehidupan yang ada dalam seluruh cerpen ini. Sebut saja megapolitan, exclusive, metropolitan, kosmopolitan, metroseksual, smart dan masih banyak lagi istilah yang terbentuk. Stereotype yang melekat pada tokoh disemua alur ceritanya menunjukan bahwa tokoh sentral Agung adalah seseorang yang cerdas, produktiv, golongan ekonomi menengah ke atas serta seorang ‘petualang’.

Hal lain yang saya suka adalah gaya bahasa “tidak sepenanak nasi” yang artinya mengarah pada lamanya waktu “tidak seberapa lama”, “menelanjangi wajahku” yang artinya “memelototi tiada berkedip”, “xxx aristokrat” yang artinya kurang lebih “sesuatu (xxx) yang berkelas dan beda dari kebanyakan orang” dan masih banyak lagi gaya bahasa yang saya kira hanya Lilik Agung yang paling pas menuturukannya.

Kisah romatis erotis yang terekam dalam cerpen ini disajikan dengan gaya bahasa yang berkelas, tidak norak dan membiarkan pembacanya  untuk mengartikan sendiri apa yang dimaksud sang penulis cerpen.

Kemudian kenapa harus Starbucks Coffee ? Saya kira cuma penulis bukunya ini yang lebih maklum, kenapa bukan cafe-cafe lain yang sama-sama berkelasnya seperti The Coffee Bean, Exselso, Dome, Hard Rock Cafe, Oh la la, Bakoel Koffie dll. Tentu tidak bijak kalau kita menaruh curiga, ada apa sebenarnya antara penulis dan pihak starbucks coffee? Sudahlah soal in kurang penting. Yang terpenting bagi saya adalah bahwa penulis cerpen sangat menguasai seluk beluk Starbucks Coffee. Mulai dari arti logo, lokasi gerai, barista (pramusaji), jam operasional sampai ke daftar menu yang tersedia. Rasanya sesering-seringnya kita datang ke tempat makan-minum paling favorit, belum tentu kita hapal dengan sangat detail apa yang ada pada toko/cafe tersebut. Tapi untuk kumpulan cerpen ini, Lilik Agung memang lain dari yang lain alias top-markotop.

One comment

  1. Saha juga Sudah baca buku ini. Ulasan dan tanggapan bang zuli Sudah tepat. Cara penulis menturkan setiap cerita emang beda alias top markotop.

    Salam blogger

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s