KRL Commuter

Karcis Elektronik Penumpang Kereta

Melewati hari-hari kerja setiap bulan dan sepanjang tahun menjadikan perjuangan tersendiri bagi para karyawan di Jakarta. Setiap hari harus bangun lebih awal demi mematuhi aturan untuk tiba di kantor tepat waktu. Terbayang di depan mata sangsi apa yang bakal diterima kalau tiap hari datang telat. Perusahaan akan dengan teganya memberi peringatan yang diberikan dalam bentuk Surat Peringatan (SP ) yang berujung pada pemecatan. Sadis memang, manakala SP sudah diterima sebanyak  tiga kali tetapi si karyawan kerap datang terlambat. Tidak ada ampun buat karyawan yang bekerja pada perusahaan di private sector.

Siapa yang salah ? Segala daya dan kemampuan sudah dikerahkan, mulai dari bagun pagi lebi awal sampai dengan memilih moda transportasi yang paling cepat di Jakarta, sebut saja Ojek, Busway, Taxi  bahkan Kereta. Tapi tetap saja  keterlambatan tiba dikantor sering terjadi. Selain karena masalah kemacetan yang tidak pernah ada jalan keluar, juga karena alasan operasional dari moda transportasi yang ada. Tidak jarang penulis menjumpai antrian karyawan didepan loket hanya untuk meminta surat keterangan terlambat karena alasan operasional Kereta. Kalau boleh diurut kacang berdasarkan prioritas, urutan moda transportasi yang pertama adalah Kereta, Ojek, Busway, Taxi dan yang terakhir Bus Kota.

Penulis adalah salah satu diantara ribuan pengguna jasa transportasi umum. Menimbang antara jarak, waktu tempuh, tingkat stress, kenyamanan dan biaya, maka banyak yang setuju bahwa pilihan moda transportasi terbaik adalah Kereta. Menumpang kereta ibarat melenggang di jalan tol yang mana pemakai tol tersebut adalah kita sendiri. Sepi, lancar dan nyaris bebas hambatan. Kondisi tersebut bukan tanpa catatan, artinya sistem transportasi kereta bisa memberikan banyak keuntungan bagi penumpangnya jika semua elemen yang terkait berjalan dengan baik dan simultan. Tidak bisa kelancaran arus kereta terjadi apabila salah satu elemennya ada gangguan. Contohnya adalah sistem persinyalan yang amat sangat menentukan ketepatan waktu dan keselamatan penumpang.

Sejauh pengamatan penulis selama menjadi pengguna jasa transporasi kereta, pelayanan yang diberikan oleh Operator sudah cukup baik, dalam hal ini PT. KAI Commuter Jabodetabek. Semua elemen utama dan pendukung perkereta apian sudah tersedia. Hanya kualitasnya saja yang perlu ditingkatkan. Kita akui, untuk mengoperasikan moda transportasi massal ini banyak sekali kendala. Karena melibatkan banyak pihak dan  koordinasi yang erat. Ada beberapa hal cukup prioritas untuk dibenahi, misalnya sistem penjualan tiket. Di dalam gerbong sangat jelas terpampang himbauan dari Operator, “Kereta ini beroperasi karena partsipasi anda membayar tiket”. Himbauan ini memang sangat lucu tetapi ada benarnya. Lucu karena penulis tidak pernah menemukan himbauan semacam itu sejauh yang pernah penulis alami ketika menggunakan trasnportasi kerta/MRT dinegara lain. Dan ada benarnya karena tidak sedikit penumpang yang enggan membeli tiket. Bagi penumpang yang memang sejatinya sudah patuh, mungkin merasa terusik dengan himbauan tersebut. Bisa jadi komentar yang keluar dari mulutnya “Sembarangan memangnya saya suka numpang gratis ?”.

 

Kembali ke tikecting, seharusnya Operator segera menerapkan tiket elektronik bagi seluruh penumpang. Baik penumpang dari kelas Ekonomi, Ekonomi AC dan Ekspres AC. Sistem elektronik ini akan menekan angka lost of  opportunity sebagai akibat keenganan membeli tiket oleh penumpang. Kerugian yang ditimbulkan akibat lost of  opportunity ini sangat menggangu keuntungan bagi Operator yang berakibat pada pelayanan. Keuntungan lain bagi operator adalah tidak perlu memakai jasa petugas pemeriksa tiket (outsourcing) diatas kereta. Karena tiket elektronik bisa digunakan sebagai kunci dipintu masuk menuju peron kereta. Bagi penumpang yang tidak membeli tiket atau tiketnya sudah tidak valid, otomoatis tidak bisa masuk dan menumpang kerata.

Selain itu penumpang juga akan sangat diuntungkan, karena bisa terhindar dari antrian pembelian tiket yang kadang cukup panjang pada jam-jam sibuk. Karena tiket elektronik bisa dibeli berdasarkan jumlah nominal harga dalam bentuk deposit atau bisa dibeli di kios-kios diluar stasiun.

Dan kalau memungkinkan penumpang tidak perlu membeli tiket baru untuk jalur yang melewati stasiun persinggahan. Cukup menggunakan tiket yang sudah ada, sehingga penumpang dapat melanjutkan perjalanan dengan tiket yang sama.

Akirnya penulis mengucapkan selamat bekerja kepada Operator dan terus perbaiki sarana dan prasarana transportasi Kereta di Jabodetabek. Karena tidak sedikit kontribusi PT. KAI Commuter Jabodetabek untuk mengurangi kemacetan lalulitas di Jakarta dengan beralihnya pengendara mobil menjadi penumpang kereta. Good Luck !

-zt-

Depok, 13 Januari 2010

3 comments

  1. Ok tuh…tiket elektrik, kalo perlu system potong gaji karyawan setiap bulan, biar ga ada penumpang gelap🙂 kereta nyaman pasti jakarta ga macet

  2. Tanggal 2 Juli 2011 akan diberlakukan aturan dimana setiap kereta akan berhenti disemua stasiun. Jadi ngga ada lagi kereta ekspres yang diprioritaskan mendahului/menyalib kereta lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s