IMG00359-20110110-0947

Kopi Pagi Harmoko, Bukan Kopi Pahit Harmoko

Mendengar nama Harmoko tentu sudah tidak asing lagi ditelinga orang Indonesia. Betapa tidak, tokoh yang satu ini memiliki segudang aktivitas dimasa lalu. Tidak diketahui latar belakang pendidikan formalnya pada jenjang yang mana. Tetapi masyarakat terlanjur mengetahi bahwa beliau adalah mantan menteri di era Orde Baru selama tiga periode. Juga pernah menjabat sebagai ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Artinya Harmoko bukanlah orang sembarangan dan tidak perlu diragukan lagi kemampuan intelektualnya. Artinya kesuksesan yang diraihnya tidak harus dipersyaratkan dengan mengantongi selembar ijasah.

Tokoh yang dikenal dengan kalimat ”menurut petunjuk bapak presiden” ini pernah juga menjabat sebagai ketua umum DPD Golkar, dan terpilih sebagai anggota MPR/DPR RI bahkan diujung karir politiknya menjadi ketua DPR RI.

Presiden Suharto pada masa itu tertarik dengan sepak terjangya sebagai seorang wartawan dan pendiri koran Pos Kota. Pembawaanya yang kalem, ramah, mudah bergaul dan berpihak kepada masyarakat kelas bawah, menarik perhatian Suahrto dan mengantarkan Harmoko sebagai menteri Penerangan RI. Banyak tokoh-tokoh seangkatannya yang mencibir dan mengkritik Harmoko karena kebijakannya sebagai menteri sangat merugikan sesama profesi wartawan. Tetapi apa kata Harmoko menanggapi hal tersebut ? Dia mengatakan, ”Pekerjaan wartawan adalah darah daging saya, tetapi peraturan dan perundangan yang berlaku dalam ruang lingkup pers harus tetap ditegakan!”. Itulah karakter Politisi, lebih banyak ngeles nya walau hatinya bertentangan.

Posisinya sebagai menteri menempatkan sebagai public relation pemerintahan Orde baru. Harmoko selalu mengatakan pers harus bebas tetapi bertanggung jawab. Sistem pers yang beralku adalah Pers Pancasila yang mengemban fungsi sebgai pers pembangunan. Pers Pancasila selalu berorientasi pada sikap dan perilaku berdasarkan Pancasilan dan UUD  1945. Bagimana dengan sistem dimasa sekarang ini ? Rasanya kata-kata Pancasila sudah jarang terdengar bukan ?

Bersama rekannya Yachya Suryawinata, pada tahun 1970  Harmoko mendirikan yayasan Antarkota yang menerbitkan koran Pos Kota dengan segmen pembaca menengah ke bawah. Sebuah koran yang berisi berita dan gaya jurnalisme yang amat sangat merakyat. Lihat saja headline berita yang tampil selalu ditulis dengan bahasa sederhana dan langsung kepada sasaran. Topiknya juga sangat khas seperti kriminalitas, perkosaan, gosip dan hiburan. Belum lagi foto-foto nya sangat mendukung topik berita yang diturunkan. Tidak heran koran ini mencetak oplah yang sangat besar, data pada tahun 1983 tirasnya mencapai 200.000 eksemplar jauh melampui koran lain.

Pensiun jadi menteri dan tidak terlibat dalam dunia politik, Harmoko tetap setia dengan Pos Kotanya. Dia mulai menulis secara reguler dihalaman depan dalam artikel Kopi Pagi. Tulisannya dalam artikel tersebut berisi analisisnya tentang peristiwa-peristiwa aktual di Indonesia. Malahan lebih berat mengkritik kepada pemerintah dalam analisa peristiwa tersebut.

Tulisan-tulisan Harmoko di Kopi Pagi diyakini sebagai metode pencitraan kembali atas kesalahan-kesalahan dimasa lalu ketika menjabat sebagai birokrat. Dalam setiap artikelnya Harmoko seolah-olah menunjukan dirinya yang memiliki hati nurani, reformis dan sangat peduli dengan segala kemunduran yang terjadi di masyarakat.

Kini diusianya yang senja, Harmoko tetap aktif dengan profesinya sebagai wartawan. Dihari ulang tahunnya yang ke-70 Harmoko meluncurkan dua buku sekaligus yaitu Nasihat Harmoko untuk Anak Cucu-cucunya dan Ada Bom Waktu. Buku pertama berisi nasihat dan pandangannya dalam mendidik anak, khusunya bagi anak-cucu Harmoko sendiri dan juga bagi mansyarakat kebanyakan. Harmoko tidak bermaksud sebagai orang paling mampu dan berhak menasehati, tetapi dengan tulus bermakasud agar pembaca lebih memahami, mengerti dan mendalami arti hidup yang sebenarnya.

Buku kedua berisi kumpulan tulisannya yang dimuat dalam artikel Kopi Pagi di harian Pos Kota. Kumpulan tulisan artikel Kopi Pagi Ada Bom Waktu ini merupakan buku pertamanya (Jakarta : Gria Media Prima, 2008), setelah itu diterbitkan kumpulan artikel Kopi Pagi berikutnya dengan judul Zaman Edan (Jakarta : Gria Media Prima, 2010).

Dihadapan para tamu yang hadir dalam peluncuran buku-buku tersebut, Harmoko mengaku terinspirasi dari mantan menteri pendidikan dan kebudayaan (almarhum) Prof. Dr. Fuad Hasan. Beliau pernah mengatakan, yang perlu ditingkatkan di negeri ini adalah budaya membaca dan menulis. Jadi tulis apa saja yang bermanfaat yang dapat diambil hikmahnya oleh pembaca.

Begitulah Harmoko dengan segala kekurangan dan kelebihannya, banyak orang  yang kontra dan ada juga yang pro pada tindakannya. Menurutnya sebagai manusia tidak lepas dari segala kesalahan. Harmoko yang hadir sampai saat ini adalah tokoh yang pernah memberi warna pada bangsa ini. Yang tetap konsisten dengan profesi yang dicintainya dan tetap setia dengan koran yang didirikan beserta visi dan misi Pos Kotanya.

-zt-

Depok, 23 Januari 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s