Alat pembuat minuman kopi tradisional Turki

Turkish Coffee Bagian I

Orang-orang Turki pertama kali mengenal kebiasaan minum kopi adalah ketika pada jaman kekuasaan Dinasti Ottoman sekitar lima abad yang lalu atau sekitar tahun 1500-an. Saat itu Gubernur Yaman-yang wilayahnya merupakan bagian dari kekuasaan Kesultanan Turki Ottoman (Utsmani)- membawa biji-bijian, termasuk biji kopi jenis arabika ke kota Istanbul. Sejak saat itu tradisi minum kopi menjadi bagian dari kebiasaan sultan dan pejabat dilingkungan istana dan juga rakyatnya.

Tak lama setelah kopi diperkenalkan ke Utsmani pada tahun 1543, kopi menjadi begitu cepat populer dengan dibukanya kedai-kedai kopi dan toko-toko kecil yang mengkhususkan diri dalam menjual biji kopi panggang (roasted coffee) yang disebut “tahmis” dan sampai hari ini ada sebuah jalan yang disebut Jalan Tahmis di daerah Eminonu di kota Istanbul.

Ritual kopi di Turki dapat dilihat dari tiga hal, yaitu bagaimana cara membuat kopi dan kapan acara penyajian kopi dilakukan serta membaca bubuk kopi untuk meramal (fortune telling). Pertama, Cara pembuatan kopi Turki dilakukan dengan cara-cara khusus, walaupun pada saat ini orang Turki lebih memilih cara praktis dalam membuat kopi. Tetapi ada juga yang masih mempertahankan membuat minuman kopi dengan cara-cara tradisional. Langkah praktis membuat kopi saat ini adalah dengan menggunakan alat pemanas dan penggiling kopi listrik. Berbeda dengan cara lama yang masih dipraktekan adalah dengan menggunakan alat-alat tradisional seperti wadah kopi (disebut Cezve atau Ibrik),  alat penggiling manual (disebut Degirmen), cangkir kopi (disebut Fincan)  serta bara api untuk menjerang kopi dimana wadah kopi akan terus diletakan diatas bara api agar kopi tetap hangat.

Alat pembuat minuman kopi tradisional Turki

Kedua, Penyajian kopi biasa dilakukan pada saat acara lamaran atau pinangan, dimana keluarga calon mempelai wanita akan menyajikan kopi dengan berbagai cara. Calon mempelai wanita akan membawakan minuman kopi diatas baki (nampan). Dimana pada acara ini si wanita memiliki hak suara dalam menjawab pinangan. Cukup unik cara menjawabnya, misalnya sengan menyajikan kopi  dengan rasa manis, rasa pahit (tanpa gula) dan rasa asin. Rasa-rasa kopi tersebut memiliki makna. Manis artinya pinangan diterima dan pahit artinya pinangan tidak diterima. Entah untuk rasa asin saya masih belum mendapat jawaban dari literatur yang ada.

Ketiga, bubuk kopi yang digiling juga dapat digunakan untuk meramal bagi mereka yang percaya. Caranya adala dengan melihat sisa ampas kopi dari cangkir atau gelas yang kita minum. Sebelum kopi anda habis maka akan tersisa sedikit air kopi dan ampasnya yang kemudian dituang secara perlahan pada lingkaran diatas meja secara horisontal dan akan membentuk pola tertentu. Kemudian seorang yang ahli membaca ampas bubuk kopi tersebut akan membaca polanya dan menjelaskan tentang masa depan anda. Dan dia juga akan memberikan saran dalam megambil keputusan yang tepat  atas masalah yang dihadapi.

Fincan (cangkir) untuk mememinum Turkish coffee

Menikmati kopi turki biasanya ditemani dengan cemilan manis sesuai kebiasaan pada waktu lampau.  Cemilan tersebut misalnya manisan buah yang dikenal sebagai serbat, turkish delight atau disebut Lokum,  pasta sultan (campuran anatra madu dan 40 jenis herbal), dan halva (kue manis terbuat coklat dan wijien ditambah kacang tanah atau almond) , atau kembang gula lainnya.

Selanjutnya saya akan mempraktekan cara membuat Turkish Coffee dengan cara praktis, yait dengan menggunakan wada kopi listrik untuk memanaskan air. Silahkan ikuti lanjutannya pada link tulisan yang akan datang.

-zt-

Depok, 15 Mei 2011

6 comments

  1. Mas Zuli, kok udah mau pindah ke bag 2 mengenai wadah listrik. Lha cerita kopi pake ibrik nya kok cuma sedikit, cerita dong apakah masih banyak kedai kopi ibrik disana, apakah mas Zuli sempet nyobain minum kopi ibrik disana, apakah kopi ibrik masih lazim di setiap rumah disana, dan apakah-apakah yang lain seputar kopi ibrik. Apakah menyebut kopi di Turki saat ini tidak identik lagi dengan kopi ibrik ?

    1. Saya sempet nyobain Turkish Coffee dua kali. Pertama ketika saya main ke Panora Mal di Ankara dan ngopi bersama teman di Tribeca Cafe. Kedua masih di Ankara, ketika makan siang di restoran Nu China saya juga memesan Turkish Coffee. Keliatannya kedua tempat tersebut sudah tidak pakai Ibrik lagi untuk membuat Turkish Coffee nya. Dan mereka juga memakai kompr gas bukan bara api (arang) untuk menjerang kopi. Sekarang ini banyak alat-alat yang menggunakan tenaga listrik. Bisa di pahami, karena untuk membuat kopi Ibrik tradisional ini repotnya luar biasa. Sementara Cafe dan Restoran kan harus cepat dalam melayani pembeli. Kira-kira begitu jawaban saya untuk Bu Endang.

  2. Terimaksih akhirnya dibuat juga tulisan tentang kopi Turki. Selesai ngebaca ternyata minuma kopi punya nilai tersndiri buat orang Turki.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s