Kedai Kopitiam Oey Jalan H. Agus Salim (sumber: Selby's Food Corner)

Koptiam Oey: Koffie Mantep Harganja Djoejoer (Bagian II)

Melanjutkan tulisan yang lalu, berikut saya sajikan sambungannya.

Layanan pramusaji

Kedai Kopitiam Oey Jalan H. Agus Salim (sumber: Selby’s Food Corner)

Sama seperti usaha dibidang jasa lainnya lebih khusus jasa restoran, pelayanan kepada pelanggan adalah modal utama untuk kelangsungan bisnis. Karena dalam bisnis restoran ini antara pelanggan dan pelaksana restoran (pramusaji) langsung berhadap-hadapan. Dimana pada saat itu terjadi komunikasi dan timbul kesan pertama dari pelanggan. Jika komunukasi berjalan baik dan diikuti dengan pelayanan yang hangat dan penuh senyum dari pramusaji, tentu pelanggan merasa dihargai. Dengan sendirinya pelanggan akan betah dan bisa menikmati suasana dan kelazatan menu yang disajikan. Untuk urusan yang satu ini saya berikan aplus buat para pelaksana di KOE. Dan ini sudah saya rasakan sendiri bahwa mereka cukup profesional dan bersikap customer oriented. Saking baiknya, mereka sampai lupa mencantumkan satu item pada bill yang akan saya bayar. Kalau saya tidak mengingatkan, saya rasa ini menjadi sebuah bonus. Tapi tetap saja saya harus ingatkan, karena pertama saya akan meras berdosa kurang membayar, kedua KOE bisa rugi.

Para pramusaji di KOE umumnya adalah anak muda. Mereka bekerja dari pagi hingga malam (saya tidak menanyakan kepada mereka ada berapa shift di KOE). Dan kalau diperhatikan para pengunjungnya pun juga banyak dari kawula muda. Ada juga para senior yang nongkrong di KOE tapi lebih banyak yang anak muda atau anak gaul. Barangkali karena sama-sama anak muda jadi antara pramusaji dan pelanggannya menjadi ’sejiwa’. Buat KOE ini menjadi keuntungan tersendiri, karena Kedainya tidak pernah sepi. Jadi pelayanan kepada pelangganlah  yang tampaknya terus dijaga oleh para awak KOE di semua cabangnya.

Suasana tempo doeloe

Pertama kali menginjakkan kaki di KOE, saya merasa seperti terbawa pada suasanan tempo dulu. Bisa saya catat bahwa penampilan kedai ini memang didesain dengan konsep kedai tempo dulu. Kesan yang paling kuat mencirikan konsep ini adalah desain interior seperti perangkat furniture, hiasan (aksesoris) dinding yang menampilkan tulisan dan gambar jaman dulu, misalnya dokumentasi iklan produk kopi dengan desain layout dan foto model khas tahun limapuluhan.

Satu lagi yang menambah kesan jaman dulu (jadul) adalah susunan daftar menu yang ditulis dengan ejaan lama, dan sudah sangat jarang kita kenal. Contohnya bisa dibaca pada tulisan bagian pertama diatas.

Usul saya buat management KOE, agar terlihat lebih jadul lagi seharusnya para pelaksana restorannya juga mengenakan pakaian atau aksesoris era tahun limapuluhan. Sehingga menimbulkan kesan jadulnya lebih komprehensif dan kental. Wah saya kira sudah komplit banget kalau usul ini dipertimbangkan dan terus diterapkan.

Fasilitas nongkrong (lokasi premium, wifi, jam buka, parkir, program diskon dll)

Fasilitas dan kemudahan yang bisa dinikmati pengunjung kedai KOE dapat saya ceritakan dalam beberapa hal. Pertama Lokasi, kalau kita baca di brosur atau di situsnya, kedai  KOE umumnya berada pada lokasi premium di Jakarta dan sekitarnya. Maksudnya lokasi tersebut cukup strategis dan cukup bergengsi bagi mereka yang punya hobi hang out. Tetapi walaupun ada dilokasi premium, entah kenapa kedai KOE biasanya agak masuk kedalam dan masih dipinggir jalan yang tenang menjauhi jalan raya yang sibuk. Mungkin maksudnya supaya pelanggan tidak terganggu dengan suara bising lalu lintas yang sibuk. Dan mungkin juga pemilihan lokasi ini lebih murah harga sewanya, sehingga KOE bisa menjual makanan dan minuman lebih murah buat pelanggan.

Kedua Parkir, pada setiap kedai KOE biasanya juga tersedia lahan parkir buat mobil atau motor. Tetapi luasnya tidak seperti lahan parkir di perkantoran atau mall. Pelanggan yang membawa kendaraan dapat parkir dekat kedai atau numpang parkir ditempat lain kalau tempat parkir sudah penuh.

Ketiga Wifi, fasilitas ini seperti menjadi wajib hukumnya dari keberadaan sebuah kedai kopi atau kafe. Dengan menyediakan koneksi internet gratis melalui hot spot (wifi) menjadi nilai tambah. Di kedai KOE pelanggan yang senang browsing atau update status Facebook akan dimanjakan dengan fasilitas tersebut. ”Hari gini kalau kafe nggak ada wifi nya mending ke laut aja”, begitu barangkali komentar pelanggan yang maniak internet. Untuk kecepatan akses di KOE saya kira cukup standard sama seperti di kafe lain.

Daftar Cabang dan waralaba

Bisnis restoran ini tampaknya kian berkembang dan sudah ada beberapa cabang kedai KOE dibeberapa tempat bahkan di luar pulau jawa. Salah satu faktor yang turut mendukung perkembangan bisnis ini adalah gaya hidup. Sekarang ini bagi sebagaian orang (anak muda), pergi dan makan minum di kafe adalah kebutuhan. Mereka mencari suasana dan tempat ngobrol yang santai sambil menikmati makan dan minum. Biasanya aktivitas ini dilakukan selepas jam kerja atau pada hari libur. Inilah salah satu fenomena kehidupan masyarakat perkotaan yang dicermati dan ditangkap sebagai peluang bisnis oleh pengelolala kedai KOE dan kafe-restoran lain.

Untuk terus meingkatkan pertumbuhan bisnisnya, KOE membuka peluang kerjasama kepada investor untuk ikut berbisnis bersama dengan pola waralaba (franchise). Dimana management KOE akan mendukung usaha bersama ini dalam hal standar operasi, training, bahan baku sampai perhitungan bagi hasil. Tidak ada bedanya dan  sama seperti konsep waralaba lain dimana hak dan kewajiban mitra waralaba sudah diatur mengikuti pola waralaba yang sudah ada.

3 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s