I am your barista

Beatles Coffee Shop

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan mengunjungi negeri Ratu Elizabeth. Sebuah negera di benua ‘biru’ Eropa yang selama ini hanya dikenal lewat media cetak dan televisi. Negara berbentuk monarki konstitusional ini merupakan negara yang memiliki pengaruh yang besar dalam kancah politik, ekonomi, sosial dan budaya di tingkat internasional. Ketika jaman kolonialisme, negara ini memiliki daerah jajahan yang tersebar ke seluruh benua. Karena itulah pengaruh bahasa dan budaya Inggris cukup mendominasi pada negara lain, terutama pada negara-negara bekas jajahan Inggris atau yang biasa kita kenal sebagai negara persemakmuran. Ada satu ungkapan mengenai daerah kekuasaan Inggris pada jaman kolonial, yaitu “Di daerah jajahan Inggris matahari tidak pernah terbenam”. Suatu ungkapan yang sepertinya berlebihan tetapi benar adanya.

Beatles Coffee Shop

Salah satu pengaruh budaya pop dari Inggris yang sangat luas adalah musik. Inggris mempunyai banyak musisi kelas dunia. Berbagai aliran musik disana menyebar ke pelosok dunia dan banyak mempengaruhi musisi lain hampir di tiap negara. Sebut saja legenda musik Inggris yang selalu abadi The Beatles. Grup musik asal kota Liverpool ini dimotori oleh empat personil John Lennon, Paul McCartney, George Harrison dan Ringo Starr. Pada masa debutnya grup ini pernah mengalami pergantian personil sampai akhirnya dengan formasi empat personil diatas, mereka menguasai panggung dan blantika musik dunia musik.

Pada jaman bapak-ibu kita dulu musik Rock and Roll banyak diminati. Dan bisa dipastikan mereka mengenal grup musik asal Liverpool ini. Banyak dari mereka yang masih tetap menjadi fans pada masa sekarang ini. Masih sering kita saksikan pertunjukan di televisi atau panggung hiburan para musisi yang membawakan lagu-lagu The Beatles bahkan lengkap dengan kostum dan atribut-atribut menyerupai empat dewa musik dari Liverpool tersebut. Tidak jarang kita jumpai anak-anak muda yang generasinya jauh berbeda menjadi penggemar musik The Beatles.

Di kedai ini Mark dibantu satu tenaga wanita

Kenapa saya berputar soal The Beatles diatas ? Sepertinya kurang relevan dengan sebagian besar isi blog ini. Tapi nanti dulu, saya akan sampaikan pengalaman berharga saat berkunjung ke negari Pangeran Charles ini. Apa lagi kalau bukan pengalaman nongkrong dan mencicipi Americano di kedai kopi di Kota London. Kedai ini bernama The Beatles Coffee Shop. Jadi sudah mulai nyambung antara cerita grup musik The Beatles dengan mainstream konten blog yang kita cintai ini (narsis… he he he). Pemilik kedai ini adalah Richard Porter bersama istrinya Irina Porter. Kedunya penggemar berat The Beatles yang mempunyai bisnis lain yang masih terkait dengan urusan The Beatles yaitu travel agent. Mereka memadukan bisnis kedai kopi dan memberikan jasa paket city tour kepada para penggemar The Beatles yang berkunjung ke London. Richard dan Irina Porter akan membawa para fans ini keliling kota London dan mengunjungi tempat bersejarah dimana para personil The Beatles pernah melakukan kegiatan bermusiknya. Napak tilas perjalanan The Beatles akan di guide langsung seperti mengunjungi Studio Apple Records (sudah ganti nama menjadi EMI Records dan terakhir Abey Road Studios), merasakan sensasi menyeberang zebra cross di Abbey Road, berkunjung ke rumah personil The Beatles dan tentu saja nongkrong di kedai kopi mereka.

I am your barista

Beatles Coffee Shop terletak di stasiun kereta St. Johns Wood. Untuk mencapai kedai kopi ini cukup mudah, dari pusat kota London kita dapat memulai perjalanan dari stasiun kereta bawah tanah (Underground Station) Paddington. Tiket kereta dapat dibeli untuk satu kali perjalanan atau untuk satu hari penuh. Tiket satu hari penuh bisa digunakan untuk segala arah tujuan di London selama jam operasional. Dari stasiun Paddington tinggal melihat petunjuk arah menuju St Johns Wood Station. Bagi pendatang yang baru berkunjung ke London saya kira tidak cukup sulit untuk berpergian dengan trasnportasi massal ini, sebab semua petunjuk dipasang cukup jelas. Apalagi kalau sempat browsing dulu di internet maka sudah ada bayangan dikepala untuk menempuh perjalanan seputar kota London. Terlebih lagi kita bisa mendapatkan peta perjalanan gratis di lobby hotel atau stasiun kereta besar seperti Paddington ini.

Sampai di St Johns Wood station kita dengan mudah segera ketemu dengan The Beatles Coffee Shop. Posisinya terletak pas di pintu keluar-masuk stasiun dan punya ciri yang sangat jelas seperti tulisan besar di etalasenya Beatles Coffee Shop. Siapa kira kedai ini ukurannya kecil tidak seperti yang saya bayangkan. Rata-rata ukuran coffee shop di Jakarta 5×10 atau lebih kecil sedikit, tapi Beatles Coffee Shop ini lebih kecil lagi. Ruangannya sudah dipenuhi dengan meja untuk meletakan mesin espresso dan sovenir The Beatles seperti T-Shirt, gantungan kunci, video vcd/dvd dan kalendar bergambar The Beatles. Tidak ada meja didalam untuk minum kopi, semua pelanggan beli take a way atau minum di luar yang sudah tersedia meja kursi. Tidak ada makanan berat yang dijual, kedai ini hanya menyediakan aneke resep kopi dan snack serta sovenir.

Tiba-tiba Mark muncul dibelakang jendela menunjukan gambar personil The Beatles

Saya sempat berkenalan sama Barista disana, namanya Mark. Dia dibantu oleh satu orang lagi perempuan. Keliatannya tidak ada lagi selain mereka yang bekerja di kedai ini. Tugas mereka selain melayani pembeli, mereka sendiri yang membuka kedai dipagi hari dan memembersihkan kedai pada saat closing. Mereka akan tutup kedai pada pukul 20.00 GMT.

Dari obrolan saya dengan Mark, ternyata dia bukan orang Inggris tulen. Dia pendatang dari Spanyol dan sangat menggemari musik The Beatles. Mark cukup ramah kepada pelanggan dan suka bercerita tentang kedainya. Menurut Mark, jauh sebelum Richard Porter menjalankan bisnis kedai ini, ternyata The Beatles Coffee Shop pernah dimiliki oleh seorang fotografer. Kemudian setelah sang fotografer menjalankan bisnis lain, maka Richard Porter yang membeli kedai ini. Katanya fotografer inilahyang mengambil foto John Lennon cs sedang menyeberangi zebra cross untuk sampul album The Beatles “Abey Road”.

Napak tilas menyeberang di zebra cross abey Road

Lokasi kedai juga tidak jauh dari jalan Abbey Road yang punya sejarah tersendiri bagi penggemar The Beatles. Setiap tahun ada sekitar 200 ribu orang yang menyeberang sambil mengambil foto sebagai kenangan. Tidak jauh dari jalan terdapat CCTV yang memantau arus lalulintas dan penyeberang jalan. Konon rumah Paul McCartney berada tidak jauh dari jalan antara Abey Road dan The Beatles Coffee Shop. Mark menceritakan tentang rumah ini tetapi dia tidak mau menunjukkan pastinya yang mana dari deeretan rumah di jalan itu yang milik Paul. Dengan alasan privasi, rumah Paul tidak pernah dipublikasikan.

Begitu ceritanya ketika saya mendapat kesempatan nongkrong di kedai terkenal ini. Suatu saat kalau ada pembaca yang datang ke London, saya sarankan untuk mampir ke kedai ini. Tentu saja masih banyak tempat-tempat menarik lainnya seperti Westminster Bridge, Lodon Tower, Titik Nol zona waktu dunia (GMT) di Greenwich dan juga stadion klub sepak bola dunia seperti Stamford Bridge (Chelsea) dan Emirates Stadium (Arsenal).

One comment

  1. Ini perjalanan yang lengkap, minum kopi yang ‘beda’ dan napak tilas perjalanan musik The Betales. Top markotop bang Zul….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s