Kopitiam

Di kategori ini kita berbagi soal perkopiaan terutama bagi para penikmat kopi. Informasi tentang manfaat dan mudarat kopi, seni meracik dan menyajikan kopi dalam aneka minuman sampai tempat nongkrong yang sempat penulis singgahi.

Ritual Kopi Pagi di Hari Libur

Sebagian dari kita menganggap bahwa kopi terbaik hanya bisa dinikmati di cafe. Padahal tidak juga, kita bisa menikmati kopi buatan sendiri sambil mengisi waktu libur pada akhir pekan. Betul sekali bahwa waktu yang cukup untuk menyalurkan bakat dan hobi bagi mereka yang sangat sibuk adalah pada saat libur weekend. Sebut saja aktivitas berbelanja, bersepeda, menulis, membaca, berkebun dan banyak lagi aktivitas akan terasa sangat menyenangkan apabila dilakukan pada hari libur sabtu-minggu. Begitu juga bagi para penikmat kopi, sayang sekali bila mereka yang sudah berinvestasi pada alat kopi kemudian membiarkannya tergelatak begitu saja. Tidak ada salahnya mengoprek-operek resep racikan kopi dan diikuti dengan mempraktekannya sebagai bentuk eksplorasi hobi dan minat kita akan kopi. Dan saya melakukan itu sebagai pengisi waktu kemudian saya share buat pembaca (semoga berkenan).

frech-fresh

Dari sekian jenis kopi yang masih ada di meja kopi saya, saya mencoba menyeduh kopi Vietnam yang kebetulan pernah saya beli ketika bertugas ke sana. Biasanya kopi Vietnam diseduh dengan satu alat penyaring yang terbuat dari bahan metal berlubang dibagian bawahnya, orang biasa menyebutnya Vietnam Drip. Kali ini saya membuat seduhan kopi dengan alat lain yaitu French Press, sebuah alat seduh kopi yang bisa ditekan tuasnya (plunger) dari atas kebawah untuk menyaring serbuk kopi yang sudah terseduh air panas. Ternyata ketika menyeduh dengan frech press ini saya mendapat pengalaman bahwa selain lebih mudah menyeduh kopinya ternyata hasilnya juga tidak jauh berbeda bila dibandingkan menyeduh dengan vietnam drip. Dari segi waktu juga ternyata lebih cepat. Selanjutnya seduhan kopi siap dinikmati dengan panganan atau cemilan. Kopi Vietnam bisa disajikan dengan menambah susu kental manis (SKM). Seperti terlihat pada gambar saya menikmatinya tanpa SKM. Sementara untuk cemilannya lagi-lagi saya membuat cemilan sendiri yaitu roti bakar isi telur ceplok dan seiris burger. Asli banget, rasa dan kualitas yang saya dapatkan sudah seperti sajian di cafe mahal hehehe… setidaknya menyenangkan hati sendiri.

kopi-vietnam-resize

Lantas bagimana dengan patokan atau standar menyeduh kopi yang baik dan benar? Kalau soal standar sebetulnya bisa kita dapat informasinya dari buku-buku resep meracik kopi. Mulai dari jenis alat seduhnya, berat kopi dan jumlah airnya bahkan sampai kepada berapa suhu dan lama waktu yang pas untuk menyeduh kopi. Apapun standarnya yang penting anda happy, karena kita sendiri yang menikmati kopi hasil racikan kita sendiri. Saya menyebutnya rezim bebas kopi dimana kita boleh punya standar masing-masing ketika menyeduh kopi.

Dari eksperimen diatas, kita mungkin setuju bahwa ada yang membedakan antara menikmati kopi di rumah dibandingkan di cafe, yaitu suasananya. Pengelola cafe sangat cerdik menyiasati konsumen dengan konsep dan penampilan cafe yang menarik, ditambah fasilitas pendukung lain seperti wifi gratis dan program promosi seperti diskon atau membership. Kembali kepada suasana minum kopi, ketika ngopi di rumah sendiri seharusnya kita merasakan suasana yang lebih enjoy karena bisa bebas melakukan apa saja. Sementara suasana di cafe juga tidak kalah enjoynya, ada hal lain yang membuat ngopi di cafe lebih pas. Misalnya cafe bisa menjadi meeting point untuk bertemu client. Terserah kepada masing-masing person lebih suka yang mana dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan waktunya.

Akhirnya dengan bereksperimen kopi ala cafe sendiri semoga kita mendapat manfaat yang positif dan membuat hati ini menjadi lebih senang dan lebih segar. Sehingga kita dapat menikmati hidup berkualitas yang berdampak bagi kesehatan. Satu yang perlu diingat bahwa jangan terlalu berlebihan mengkonsumsi kopi. Sebab apapun yang berlebihan akan berdampak tidak baik bagi diri sendiri.

Salam kopi!

Tegula’s Rumah Teh dan Kopi di Depok

Untuk coffee lover yang tinggal di Kota Depok dan sekitarnya bisa mampir ke warungopi Tegula’s. Disana anda bisa mengajak teman sambil minum kopi dan  sekaligus ngobrol-ngobrol membicarakan bisnis atau masalah banjir yang saat sedang melanda Jakarta dan sekitarnya.

Kalau berminat untuk terjun dibidang perkopian bisa sekedar sharing dahulu di outletnya :

Tegula’s
Rumah Teh dan Kopi
Alamat Jl. Raden Saleh Raya – Studio Alam TVRI -Depok 2
(lokasi berjarak sekitar 300m dari SMAN 3 DEPOK)

Salah satu pengunjung situs ayojajan.com, Surya  pernah berkomentar tetang tempat nongkrong satu ini:

“mantep punya , tampilan kios standar rasa bintang lima , dan pelayanan familiar. Ruangan tidak sumpek , kebersihan manteprasa makanan sama kaya di restoran terkenal minuman bisa di adu sama brand – brand besar yang jadi point penting harga berkisar 3.500 s.d 15.000”

Tunggu apalagi ? silahkan bagi mereka yang mau cari udara segar di luar sambil minum kopi dan menyantap menu sederhana dan murah, hanya ada di di Tegula’s Rumah Teh dan Kopi.

Papua Wamena Orginal Coffee

Rockstar Kopitiam

Lokasi kota Cirebon yang cukup strategis yaitu terletak diantara dua propinsi Jawa Tengan dan Jawa Barat menjadikannya sebagai kota transit bagi orang yang berpergian di lokasi tesebut. Tidak heran kita mendapati banyak sekali hotel-hotel mualai kelas melati sampai bintang 3. Tidak ketinggalan tempat menarik lain seperti restoran dan warung makan sebagai objek wisata kuliner. Ada juga pusat belanja batik khas Cirebon di daerah Trusmi, dimana warganya bekerja dan berbisnis membuat dan memasarkan batik sampai ke luar Cirebon. Bagi penggemar batik saya rasa patut mencoba berbelanja disana. Pusat belanjanya cukup nyaman, disepanjang jalan berjejer showroom/etalase yang memajang aneka batik.

Teras Rockstar Kopitiam

Bicara soal kuliner di Cirebon pastinya sangat menarik. Ada beberapa masakan yang saya ingat antara lain empal gentong, nasi jamblang, docang, dll. Anehnya kalau di Jakarta sering kita jumpai bubur khas irebon yang dijajakan di atas grobak, ini lain di kota Cirebon saya kok sepertinya tidak melihat penjual bubur khas Cirebon. Sama seperti di kota padang tidak ada warung atau restoran nasi padang.

Jalan-jalan di kota Cirebon sambil menikmati malam enaknya kita minum kopi. Kebetulan saya sempat ke Rockstar Kopitian yang lokasinya tidak jauh dari hotel tempat menginap. Kopitiam ini berada di Jalan Kartini No. 18 Cirebon, patokan yang paling jelas adalah alun-alun yang diatasnya ada Masjid At-Taqwa dan pintu kereta Stasiun Cirebon. Dijalan ini banyak dijumpai warung dan restoran yang menyajikan makanan khas Cirebon. Ada juga brand-brand restoran cepat saji. Rasanya lebih menarik menysuri Jalan Kartini di malam hari, selain tidak panas terik kita akan lebih terkesan dengan pemandangan toko yang bermandikan cahaya.

Poster musisi dunia sebagai hiasan diding

Rockstar kopitiam adalah tempat nongkrong kaula muda. Terlihat sangat jelas dari konsep dan desain warungnya yang menampilkan aksesoris dan musik yang sedang ngetop di kalangan anak muda. Yang menarik dari kopitiam ini adalah daftar menu yang beraneka dan sangat terjangkau. Tampaknya pengelola mengerti benar daya beli pelanggannya yang memang dibidik untuk mereka yang masih bestatus pelajar dan mahasiswa. Walau demikian tidak sedikit juga pelanggannya dari golongan yang sudah mapan.

Secangkir Kopi Papua Wamena bisa dinikmati dengan harga sembilan ribuan. Roti bakar dan Bihun gorengnya juga murah tetapi citarasanya tidak murahan. Terbukti sajian menu di kopitiam ini tidak mengecewakan saya, dan ketika lewat pertamakali di depan tokonya saya berpikir bahwa saya harus datang dan coba. Ternyata benar tuh… I’m not dissapointed.

Papua Wamena Orginal Coffee

Roti bakar kaya pandan dan french fries

Bihun goreng ayam

Beatles Coffee Shop

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan mengunjungi negeri Ratu Elizabeth. Sebuah negera di benua ‘biru’ Eropa yang selama ini hanya dikenal lewat media cetak dan televisi. Negara berbentuk monarki konstitusional ini merupakan negara yang memiliki pengaruh yang besar dalam kancah politik, ekonomi, sosial dan budaya di tingkat internasional. Ketika jaman kolonialisme, negara ini memiliki daerah jajahan yang tersebar ke seluruh benua. Karena itulah pengaruh bahasa dan budaya Inggris cukup mendominasi pada negara lain, terutama pada negara-negara bekas jajahan Inggris atau yang biasa kita kenal sebagai negara persemakmuran. Ada satu ungkapan mengenai daerah kekuasaan Inggris pada jaman kolonial, yaitu “Di daerah jajahan Inggris matahari tidak pernah terbenam”. Suatu ungkapan yang sepertinya berlebihan tetapi benar adanya.

Beatles Coffee Shop

Salah satu pengaruh budaya pop dari Inggris yang sangat luas adalah musik. Inggris mempunyai banyak musisi kelas dunia. Berbagai aliran musik disana menyebar ke pelosok dunia dan banyak mempengaruhi musisi lain hampir di tiap negara. Sebut saja legenda musik Inggris yang selalu abadi The Beatles. Grup musik asal kota Liverpool ini dimotori oleh empat personil John Lennon, Paul McCartney, George Harrison dan Ringo Starr. Pada masa debutnya grup ini pernah mengalami pergantian personil sampai akhirnya dengan formasi empat personil diatas, mereka menguasai panggung dan blantika musik dunia musik.

Pada jaman bapak-ibu kita dulu musik Rock and Roll banyak diminati. Dan bisa dipastikan mereka mengenal grup musik asal Liverpool ini. Banyak dari mereka yang masih tetap menjadi fans pada masa sekarang ini. Masih sering kita saksikan pertunjukan di televisi atau panggung hiburan para musisi yang membawakan lagu-lagu The Beatles bahkan lengkap dengan kostum dan atribut-atribut menyerupai empat dewa musik dari Liverpool tersebut. Tidak jarang kita jumpai anak-anak muda yang generasinya jauh berbeda menjadi penggemar musik The Beatles.

Di kedai ini Mark dibantu satu tenaga wanita

Kenapa saya berputar soal The Beatles diatas ? Sepertinya kurang relevan dengan sebagian besar isi blog ini. Tapi nanti dulu, saya akan sampaikan pengalaman berharga saat berkunjung ke negari Pangeran Charles ini. Apa lagi kalau bukan pengalaman nongkrong dan mencicipi Americano di kedai kopi di Kota London. Kedai ini bernama The Beatles Coffee Shop. Jadi sudah mulai nyambung antara cerita grup musik The Beatles dengan mainstream konten blog yang kita cintai ini (narsis… he he he). Pemilik kedai ini adalah Richard Porter bersama istrinya Irina Porter. Kedunya penggemar berat The Beatles yang mempunyai bisnis lain yang masih terkait dengan urusan The Beatles yaitu travel agent. Mereka memadukan bisnis kedai kopi dan memberikan jasa paket city tour kepada para penggemar The Beatles yang berkunjung ke London. Richard dan Irina Porter akan membawa para fans ini keliling kota London dan mengunjungi tempat bersejarah dimana para personil The Beatles pernah melakukan kegiatan bermusiknya. Napak tilas perjalanan The Beatles akan di guide langsung seperti mengunjungi Studio Apple Records (sudah ganti nama menjadi EMI Records dan terakhir Abey Road Studios), merasakan sensasi menyeberang zebra cross di Abbey Road, berkunjung ke rumah personil The Beatles dan tentu saja nongkrong di kedai kopi mereka.

I am your barista

Beatles Coffee Shop terletak di stasiun kereta St. Johns Wood. Untuk mencapai kedai kopi ini cukup mudah, dari pusat kota London kita dapat memulai perjalanan dari stasiun kereta bawah tanah (Underground Station) Paddington. Tiket kereta dapat dibeli untuk satu kali perjalanan atau untuk satu hari penuh. Tiket satu hari penuh bisa digunakan untuk segala arah tujuan di London selama jam operasional. Dari stasiun Paddington tinggal melihat petunjuk arah menuju St Johns Wood Station. Bagi pendatang yang baru berkunjung ke London saya kira tidak cukup sulit untuk berpergian dengan trasnportasi massal ini, sebab semua petunjuk dipasang cukup jelas. Apalagi kalau sempat browsing dulu di internet maka sudah ada bayangan dikepala untuk menempuh perjalanan seputar kota London. Terlebih lagi kita bisa mendapatkan peta perjalanan gratis di lobby hotel atau stasiun kereta besar seperti Paddington ini.

Sampai di St Johns Wood station kita dengan mudah segera ketemu dengan The Beatles Coffee Shop. Posisinya terletak pas di pintu keluar-masuk stasiun dan punya ciri yang sangat jelas seperti tulisan besar di etalasenya Beatles Coffee Shop. Siapa kira kedai ini ukurannya kecil tidak seperti yang saya bayangkan. Rata-rata ukuran coffee shop di Jakarta 5×10 atau lebih kecil sedikit, tapi Beatles Coffee Shop ini lebih kecil lagi. Ruangannya sudah dipenuhi dengan meja untuk meletakan mesin espresso dan sovenir The Beatles seperti T-Shirt, gantungan kunci, video vcd/dvd dan kalendar bergambar The Beatles. Tidak ada meja didalam untuk minum kopi, semua pelanggan beli take a way atau minum di luar yang sudah tersedia meja kursi. Tidak ada makanan berat yang dijual, kedai ini hanya menyediakan aneke resep kopi dan snack serta sovenir.

Tiba-tiba Mark muncul dibelakang jendela menunjukan gambar personil The Beatles

Saya sempat berkenalan sama Barista disana, namanya Mark. Dia dibantu oleh satu orang lagi perempuan. Keliatannya tidak ada lagi selain mereka yang bekerja di kedai ini. Tugas mereka selain melayani pembeli, mereka sendiri yang membuka kedai dipagi hari dan memembersihkan kedai pada saat closing. Mereka akan tutup kedai pada pukul 20.00 GMT.

Dari obrolan saya dengan Mark, ternyata dia bukan orang Inggris tulen. Dia pendatang dari Spanyol dan sangat menggemari musik The Beatles. Mark cukup ramah kepada pelanggan dan suka bercerita tentang kedainya. Menurut Mark, jauh sebelum Richard Porter menjalankan bisnis kedai ini, ternyata The Beatles Coffee Shop pernah dimiliki oleh seorang fotografer. Kemudian setelah sang fotografer menjalankan bisnis lain, maka Richard Porter yang membeli kedai ini. Katanya fotografer inilahyang mengambil foto John Lennon cs sedang menyeberangi zebra cross untuk sampul album The Beatles “Abey Road”.

Napak tilas menyeberang di zebra cross abey Road

Lokasi kedai juga tidak jauh dari jalan Abbey Road yang punya sejarah tersendiri bagi penggemar The Beatles. Setiap tahun ada sekitar 200 ribu orang yang menyeberang sambil mengambil foto sebagai kenangan. Tidak jauh dari jalan terdapat CCTV yang memantau arus lalulintas dan penyeberang jalan. Konon rumah Paul McCartney berada tidak jauh dari jalan antara Abey Road dan The Beatles Coffee Shop. Mark menceritakan tentang rumah ini tetapi dia tidak mau menunjukkan pastinya yang mana dari deeretan rumah di jalan itu yang milik Paul. Dengan alasan privasi, rumah Paul tidak pernah dipublikasikan.

Begitu ceritanya ketika saya mendapat kesempatan nongkrong di kedai terkenal ini. Suatu saat kalau ada pembaca yang datang ke London, saya sarankan untuk mampir ke kedai ini. Tentu saja masih banyak tempat-tempat menarik lainnya seperti Westminster Bridge, Lodon Tower, Titik Nol zona waktu dunia (GMT) di Greenwich dan juga stadion klub sepak bola dunia seperti Stamford Bridge (Chelsea) dan Emirates Stadium (Arsenal).

22 merek kopi berbahan kimia

(Tulisan ini bersumber dari sittus arrahmah.com)

Bagi para kopimania, kopi merupakan minuman penting dalam segala aktivitas. Tanpa kopi, maka sarapan pagi, saat kerja, saat online, ngeblog, maupun acara resmi seperti seminar, lokakarya, rapat, dll rasanya kurang afdhal. Sehinga ada istilah baku coffee break.

Tetapi, para kopinamia harus meningkatkan kehati-hatian dalam memilih kopi, baik kopi biasa maupun kopi herbal. Karena Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyita sekira 22 produk kopi dalam kemasan yang disinyalir mengandung Bahan Kimia Obat (BKO). Berikut nama-nama kopi yang dilarang beredar di pasaran karena berbahaya bagi kesehatan:

1. 39 Sa Kao 3 in 1 Kopi Mix Plus Ekstra Jahe.
2. 39 Sa Kao Kopi Mix Ginseng Korea 3 in 1.
3. Bel-Bel Kopi Susu Extra produksi PT Mandala Cahaya Sentosa.
4. Black Borneo Platinum Coffee produksi PT Victoabel Food Industry.
5. Dream Coffee produksi PT Mandala Cahaya Sentosa, Sidoarjo dan PT International Green Natural.
6. Dynamic Coffee/Dynamic Coffee Nusantara/Dynamic Tribulus Coffee produksi PT Daya Dinamika Nusantara dan PT Aimfood Indonesia.
7. Golden Life.
8. Good Coffee Premium/Good Coffee produksi PT Putra Gudti Indonesia dan CV Bin Halim.
9. Herba Max Coffee distributor PT Solusky.
10. Jahe Mix Barokah SP.
11. Jamoon Isntan Coffee produksi PT Green Nirmala, Sidoarjo.
12. Joss-Fly Coffee Plus Panax Ginseng produksi PT Mandala Cahaya Sentosa.
13. Kopi Cleng Sehat, Nikmat, Berstamina produksi CV Jamu Moro Sehat, Banjarnegara.
14. Kopi KPH/Kopi Kuat.
15. Kopi Mahabbah produksi PT Mandala dan Mahabbah Group.
16. Kopi Pasutri produksi Al-Jazira Herbal, Bekasi.
17. Kopi Strong 234 produksi PT Hamiegi, Bandung.
18. Maca-Tekh produksi PT Wootekh, Jakarta.
19. Matador Coffee.
20. Mawaddah Coffee.
21. On Coffee.
22. Premium Energy Coffee.

Mengingat  bahaya bahan kimia pada merk kopi tersebut, kepada masyarakat diminta untuk tidak membeli dan mengkonsumsi produk kopi di atas. Bila menemukan produksi dan atau peredaran kopi mengandung BKO tersebut agar melaporkan kepada unit pengaduan konsumen BPOM nomor telepon 021-4263333 dan 021-32199000 atau email ke ulpk@pom.go.id atau melalui layanan informasi konsumen di balai besar atau balai POM di seluruh Indonesia. (saif/okz/arrahmah.com)

Anomali Coffee “Penyimpangan Kopi”

Pertama kali mendengar kata ‘anomali’, fikiran saya seperti terbawa untuk mengingat pelajaran di sekolah dulu. Kalau tidak salah mata plejaran yang menyebut-nyebut kata ‘anomali’ ini adalah fisika. Saat itu saya sedang mengamati ‘tingkah laku’ air (benda cair).  Ada teori yang mengatakan bahwa permukaan air selalu datar. Ketika air di tuang ke dalam gelas, piring atau botol dst. dapat dilihat memang permukaanya demikian datar. Ketika gelas dimiringkan atau air dituang kedalam tempat dengan dasar cekung, tetap saja permukaannya selalau datar.

Sifat air  yang lain adalah air selalu mengalir dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah.  Jika air dipanaskan mulai dari suhu 0 sampai 4 derajat celsius maka volume air akan menyusut. Akibatnya air akan menjadi es dan bisa mengapung diatas permukaan air yang lebih tinggi suhunya. Berbeda dengan sifat zat lain, biasanya suatu zat akan memuai jika dipanaskan dan akan menyusut jika didinginkan. Karena sifatnya yang berbeda (menyimpang) dari zat lain maka sifat ini disebut sebagai anomali air.

Penyajian menu pesanan di Anomali

Nah sekarang ada anomali lain yang tidak kalah anehnya, yaitu Anomali Coffee.  Paling tidak keanehan yang ada di kedai ini adalah penggunaan biji kopinya. Ketika kedai kopi lain menjual kopi impor, di Anomali Coffee semua biji kopi didatangkan dari perkebunan kopi yang tersebar dari Sumatera, Jawa, Bali Sulawesi Selatan dan Papua. Tidak ada biji kopi yang diimpor dalam setiap sajian kopinya. Biji kopi di Anomali disimpan dan digoreng  dengan menggunakan mesin moderen yang terletak pada salah satu cabangnya (cabang Setiabudi). Dikedai ini kita akan mendaptkan tulisan besar terpampang KOPI ASLI INDONESIA. Jadi sudah jelas dimana letak keanomalian dari kedai kopi ini bukan?

Anomali sebagai pemain kopi sepecial

Kita tau Anomali bukan satu-satunya yang menjual dan menyajikan kopi dengan embel-embel “Speciality Coffee”. Masih ada beberapa pemain lain di segmen ini yang tidak kalah sukses seperti Anomali. Di Indonesia sudah ada asosiasi, yaitu Speciality Coffee Association of Indonesia (SCAI)  yang menaungi  para pengusaha yang berbisnis pada kopi jenis special ini. Setiap merk mempunyai ciri dan kekhasan masing-masing. Salah satu yang menonjol dari Anomali Coffee, buat saya adalah visinya yang kuat untuk memajukan nama Indonesia sebagai salah satu penghasil kopi terbesar  dan berkualitas didunia. Bukti ini tergambar pada tagline KOPI ASLI INDONESIA dan penggunaan biji kopi asli Indonesia.

Ruangan yang cool dan berkarakter

Satu hal yang masih kurang saya pahami adalah istilah ‘speciality coffee’. Kalau kita browsing di internet atau membaca pada literature yang ada, istilah ini bisa bermacam-macam. Tapi dari pengamatan sederhana dilapangan,  dapat saya simpulkan bahwa Speciality Coffee ini adalah istilah buat bisnis kopi yang terkesan eksklusif. Artinya eksklusif disini bisa dari sisi produk dan lifestyle. Coffee sepeciality pada umunya diproduksi dalam kuatitas terbatas dan diproses secara sempurna. Mulai dari penyeleksian biji kopi (sorted) kemudian dilanjutkan kepada proses penggorengan (roasting) dan akhirnya disajikan kepada konsumen.

Penyortiran dilakukan untuk memilih biji kopi terbaik sebelum akhirnya digoreng oleh ahli yang bersertifikat. Jadi tukang goreng kopi ini tidak sama seperti layaknya tukang gorengan. Dia adalah seorang yang ahli dan mempunyai passion terhadap kopi yang digoreng. Sementara dari segi kuantitas, speciality coffee tidak diproduksi dalam jumlah banyak (mass paroduct). Produksinya diatur sesuai kebutuhan. Pemain kopi di segmen ini biasanya menguasai bisnis dari hulu sampai ke hilir. Dihulu mereka berbisnis dengan para petani kopi secara langsung, kemudian mereka bermain di lini produksi dan pada akhirnya mereka menjual langsung kepada konsumen dalam bentuk minuman atau bijian. Biasanya mereka memiliki banyak gerai kopi sebagai tempat penjualan akhir. Bahkan bisnis ini masih diboncengi (mixed) dengan jasa pelatihan dan penjualan mesin/aksesoris kopi.

Ngopi di Anomali Senopati

Begitu masuk kedalam kedai Anomali Coffee saya langsung terkesan dengan tata ruangnya. Saya merasakan sesuatu yang beda dibandingkan dengan kedai kopi lain. Look and feel kedai ini terasa sekali seperti di sebuah bangunan bekas benteng atau gudang. Mirip seperti kedai kopi lain yang meberi kesan nyaman, biasanya pencahayaan ruangan dibuat lebih soft. Walau disiang hari, kedai Anomali ini terasa cool. Terkecuali di meja dekat jendela, tentu saja cahanya masih cukup terang karena masuknya cahaya dari luar. Suhunyapun lebh panas dibanding posisi meja yang lebih kedalam. Entah gimana kalau waktunya dimalam hari, saya rasa pasti tambah cozy.

Seorang barista sedang beraksi

Sebelumnya saya suka bingung apa bedanya antara coffe shop VS café & resto VS Kopitiam?  Setelah sempat menikmati kopi di beberapa kedai, sekarang kebingungan itu sudah mulai terang benderang. Kedaikopi kopi dengan konsep Coffee Shop biasanya hanya menjual minuman, terutama kopi dan variasinya. Sementara Café & Resto bisanya tidak hanya menjual minuman kopi, tapi juga aneka minuman lain. Dan tentu saja ada menu makanan sama untuk breakfast, lunch dan dinner seperti sebuah restoran. Sementara Kopitiam ini amat sangat mirip dengan Café & Resto, tapi bedanya di Kopitiam sangat kental nuasa Cina dan Melayunya. Dan biasaya sebuah Koptiam mengusung kenangan masa lalu. Sehingga pengunjung seperti merasakan suasana tempo dulu. Mohon koreksi dari pembaca kalau kesimpulan saya atas ketiga konsep kedai kopi diatas kurang tepat.

Salah satu elemen penting lain yang mebedakan antara satu kedai kopi dengan kedai kopi lainnya bisanya menyangkut soal furniture. Di Anomali saya merasakan kesan yang hangat dan natural. Hal ini lebih terasa  karena selain warna dan tekstur interiornya yang kalem, satu lagi yang menguatkan kesan hangat tersebut adalah penggunaan perabot seperti bangku dan meja yang terbuat dari kayu.  Furnitur ini dicat atau dipolitur dengan warna alami. Akhirnya pengunjung merasa nyaman dan betah nongkrong lama disini. Terlebih lagi Anomali juga menyediakan fasilitas wifi yang menjadikan seluruh area di Anomali menjadi hot spot area. Sangat pas buat mereka yang ingin membunuh waktu sambil menikmati secangkir kopi berkualitas.

Furnitur kayu dengan warna natural

Menu di Anomali

Siang itu saya memilih kopi Wamena Papua yang dalam daftar menunya dijelaskan bahwa karakteristik kopi ini Fruity aroma, superb acidity, clean flavor with great body. Sementara rekan saya mencoba kopi Aceh Gayo Organik dengan karakterisitik Organic medium acidity with rich earthy undertones, vibrant and versatile. Sebagai teman minum kopi kami pilih dua porsi pisang goring. Satu porsi isinya dua buah pisang goreng. Hmmm… rasanya mantap dan klop banget, segelas kopi panas ditemani pisang goreng. Rasa mantap ini sebandinglah dengan harganya. Bahkan untuk segelas kopi hitam, harga di Anomali malah sedikit lebih mahal dibanding segelas kopi yang sama di gerai kopi yang berasal dari negeri abang Sam.

Masih banyak menu lain yang tertulis dalam daftar menu. Nampaknya saya harus kembali lagi beberapa kali kalau ingin merasakan seluruh manu yang disajikan. Untuk saat ini saya kira cukup sekali sebagai perkenalan, entah dilain hari mungkin saya akan coba juga menu kopi lain yang sangat eksotis itu.

Profil pengunjung

Selama saya berada di Anomali Coffee, terlihat beberapa pelanggan yang datang silih berganti. Kebanyak dari mereka adalah kalangan usia dewasa dan mapan. Anda masih ingat psikografi dari pengunjung kedai kopi ? Sama seperti yang sudah saya sampaikan pada tulisan sebelumnya, acara ngopi ini merupakan gaya hidup. Kebanyakan pengunjung yang datang adalah untuk menikmati suasana sambil bercengkrama dengan teman atau relasi. Ada yang sekedar ngobrol ada juga yang serius membicarakan urusan bisnis.

Pengunjung lokal dan orang asing

Kedai Anomali terletak di daerah Senopati yang merupakan basis komunitas warga asing seperti Korea dan Jepang. Tidak jauh disekitar kedai ini banyak terdapat restoran, toko swalayan, kantor sampai praktik dokter untuk warga Korea Selatan. Dengan kondisi ini, tidak herang Anomali Coffee banyak dikunjungi warga Korea dan Jepang yang terkenal sebagai peminum kopi. Bedanya antara pengunjung lokal dan pengunjung asing adalah; pengunjung lokal betah berlama-lama sementara pengunjung asing lebih cepat selesai meninggalkan kedai menuju tempat aktivitas.

Koptiam Oey: Koffie Mantep Harganja Djoejoer (Bagian II)

Melanjutkan tulisan yang lalu, berikut saya sajikan sambungannya.

Layanan pramusaji

Kedai Kopitiam Oey Jalan H. Agus Salim (sumber: Selby’s Food Corner)

Sama seperti usaha dibidang jasa lainnya lebih khusus jasa restoran, pelayanan kepada pelanggan adalah modal utama untuk kelangsungan bisnis. Karena dalam bisnis restoran ini antara pelanggan dan pelaksana restoran (pramusaji) langsung berhadap-hadapan. Dimana pada saat itu terjadi komunikasi dan timbul kesan pertama dari pelanggan. Jika komunukasi berjalan baik dan diikuti dengan pelayanan yang hangat dan penuh senyum dari pramusaji, tentu pelanggan merasa dihargai. Dengan sendirinya pelanggan akan betah dan bisa menikmati suasana dan kelazatan menu yang disajikan. Untuk urusan yang satu ini saya berikan aplus buat para pelaksana di KOE. Dan ini sudah saya rasakan sendiri bahwa mereka cukup profesional dan bersikap customer oriented. Saking baiknya, mereka sampai lupa mencantumkan satu item pada bill yang akan saya bayar. Kalau saya tidak mengingatkan, saya rasa ini menjadi sebuah bonus. Tapi tetap saja saya harus ingatkan, karena pertama saya akan meras berdosa kurang membayar, kedua KOE bisa rugi.

Para pramusaji di KOE umumnya adalah anak muda. Mereka bekerja dari pagi hingga malam (saya tidak menanyakan kepada mereka ada berapa shift di KOE). Dan kalau diperhatikan para pengunjungnya pun juga banyak dari kawula muda. Ada juga para senior yang nongkrong di KOE tapi lebih banyak yang anak muda atau anak gaul. Barangkali karena sama-sama anak muda jadi antara pramusaji dan pelanggannya menjadi ’sejiwa’. Buat KOE ini menjadi keuntungan tersendiri, karena Kedainya tidak pernah sepi. Jadi pelayanan kepada pelangganlah  yang tampaknya terus dijaga oleh para awak KOE di semua cabangnya.

Suasana tempo doeloe

Pertama kali menginjakkan kaki di KOE, saya merasa seperti terbawa pada suasanan tempo dulu. Bisa saya catat bahwa penampilan kedai ini memang didesain dengan konsep kedai tempo dulu. Kesan yang paling kuat mencirikan konsep ini adalah desain interior seperti perangkat furniture, hiasan (aksesoris) dinding yang menampilkan tulisan dan gambar jaman dulu, misalnya dokumentasi iklan produk kopi dengan desain layout dan foto model khas tahun limapuluhan.

Satu lagi yang menambah kesan jaman dulu (jadul) adalah susunan daftar menu yang ditulis dengan ejaan lama, dan sudah sangat jarang kita kenal. Contohnya bisa dibaca pada tulisan bagian pertama diatas.

Usul saya buat management KOE, agar terlihat lebih jadul lagi seharusnya para pelaksana restorannya juga mengenakan pakaian atau aksesoris era tahun limapuluhan. Sehingga menimbulkan kesan jadulnya lebih komprehensif dan kental. Wah saya kira sudah komplit banget kalau usul ini dipertimbangkan dan terus diterapkan.

Fasilitas nongkrong (lokasi premium, wifi, jam buka, parkir, program diskon dll)

Fasilitas dan kemudahan yang bisa dinikmati pengunjung kedai KOE dapat saya ceritakan dalam beberapa hal. Pertama Lokasi, kalau kita baca di brosur atau di situsnya, kedai  KOE umumnya berada pada lokasi premium di Jakarta dan sekitarnya. Maksudnya lokasi tersebut cukup strategis dan cukup bergengsi bagi mereka yang punya hobi hang out. Tetapi walaupun ada dilokasi premium, entah kenapa kedai KOE biasanya agak masuk kedalam dan masih dipinggir jalan yang tenang menjauhi jalan raya yang sibuk. Mungkin maksudnya supaya pelanggan tidak terganggu dengan suara bising lalu lintas yang sibuk. Dan mungkin juga pemilihan lokasi ini lebih murah harga sewanya, sehingga KOE bisa menjual makanan dan minuman lebih murah buat pelanggan.

Kedua Parkir, pada setiap kedai KOE biasanya juga tersedia lahan parkir buat mobil atau motor. Tetapi luasnya tidak seperti lahan parkir di perkantoran atau mall. Pelanggan yang membawa kendaraan dapat parkir dekat kedai atau numpang parkir ditempat lain kalau tempat parkir sudah penuh.

Ketiga Wifi, fasilitas ini seperti menjadi wajib hukumnya dari keberadaan sebuah kedai kopi atau kafe. Dengan menyediakan koneksi internet gratis melalui hot spot (wifi) menjadi nilai tambah. Di kedai KOE pelanggan yang senang browsing atau update status Facebook akan dimanjakan dengan fasilitas tersebut. ”Hari gini kalau kafe nggak ada wifi nya mending ke laut aja”, begitu barangkali komentar pelanggan yang maniak internet. Untuk kecepatan akses di KOE saya kira cukup standard sama seperti di kafe lain.

Daftar Cabang dan waralaba

Bisnis restoran ini tampaknya kian berkembang dan sudah ada beberapa cabang kedai KOE dibeberapa tempat bahkan di luar pulau jawa. Salah satu faktor yang turut mendukung perkembangan bisnis ini adalah gaya hidup. Sekarang ini bagi sebagaian orang (anak muda), pergi dan makan minum di kafe adalah kebutuhan. Mereka mencari suasana dan tempat ngobrol yang santai sambil menikmati makan dan minum. Biasanya aktivitas ini dilakukan selepas jam kerja atau pada hari libur. Inilah salah satu fenomena kehidupan masyarakat perkotaan yang dicermati dan ditangkap sebagai peluang bisnis oleh pengelolala kedai KOE dan kafe-restoran lain.

Untuk terus meingkatkan pertumbuhan bisnisnya, KOE membuka peluang kerjasama kepada investor untuk ikut berbisnis bersama dengan pola waralaba (franchise). Dimana management KOE akan mendukung usaha bersama ini dalam hal standar operasi, training, bahan baku sampai perhitungan bagi hasil. Tidak ada bedanya dan  sama seperti konsep waralaba lain dimana hak dan kewajiban mitra waralaba sudah diatur mengikuti pola waralaba yang sudah ada.