Traveling

Pastinya info tentang traveling ini sudah sangat umum, tapi ngga ada salahnya kalau penulis sedikit berbagi dan siapa tau ada manfaatnya. Dalam kategori ini penulis sempatkan membuat catatan pada tempat-tempat yang penulis pernah kunjungi. Entah karena ada kesempatan berlibur bersama keluarga atau karena tugas dari kantor yang penulis jalani.

Pesta Kopi Mandiri

Pesta kopi adalah sebuah kegiatan sangat menarik untuk didatangi yang mana banyak dihadiri oleh pelaku bisnis dan penggemar kopi. Mereka berkumpul dan bercampur dalam suasana yang akrab sambil berdiskusi membahas permasalahan seputar kopi. Kita juga sering mendengar kegiatan serupa di berbagai tempat, namun biasanya acara ini disebut sebagai festival kopi. Entah kenapa acara yang digelar pada tanggal 29-30 April 2017 dan bertempat di Musium Bank Mandiri Jakarta ini dipublikasikan sebagai pesta kopi. Meski rangkaian acara dan pihak-pihak yang terlibat kurang lebih sama. Pesta Kopi Mandiri ini juga merupakan kelan kejutan dari Pesta Kopi Mandiri sebelumnya yang pernah digelar pada tanggal 22-23 April 2017 di situs Candi Prambanan Jogjakarta.
Jika kamu adalah penggemar kopi sangat disarankan untuk datang ke acara Pesta Kopi Mandiri agar dapat menambah wawasan. Ada serangkaian acara menarik seperti bazar, seminar & diskusi, demo seduh kopi, pemutaran film  sampai acara panggung hiburan. Kamu bisa datang dan mengajak teman atau bersama keluarga. Setelah jenuh bekerja, acara ini sangat cocok buat mengisi waktu libur akhir pekan yang panjang.
Menurut panitia acara ini diikuti oleh 30 peserta tenant dimana mereka menggelar produknya diatas lapak-lapak yang disusun berjajajar pada lorong-lorong di gedung Musium Bank Mandiri. Sebetulnya agak kurang nyaman buat pengunjung karena lapak-lapak tersebut mengambil sebagian lorong sehingga terasa sempit untuk berlalu lalang. Sebaliknya di area panggung hiburan terasa lebih lapang sebab tempatnya cukup luas, dan disana juga ada tenda-tenda peserta bazar.
Bagi pengunjung yang datang ke pesta kopi dapat menunjukkan kartu debit atau kartu kredit Bank Mandiri agar bisa bergabung, bila tidak maka mereka diminta untuk membuat kartu tersebut di pintu masuk. Panitia tidak menarik karcis berbayar alias gratis. Setiap transaksi yang terjadi pada lapak-lapak peserta tidak diperkenankan secara tunai. Pembayaran dilakukan secara non tunai dengan kartu debit atau kartu kredit tadi.
Salah satu tenant yang saya datangi adalah 9 Cups. Disini saya mencicipi kopi yang berasal dari berbagai tempat di tanah air. Semua biji kopi di 9 cups digoreng sendiri oleh mereka sebelum dijual kepada konsumen. 9 Cups juga punya seorang Q Grader yang mengawal proses penggorenagn kopi. Sehingga dijamin hasilnya akan selalu stabil dengan aroma dan cita rasa yang tetap untuk setiap kali roasting dilakukan.
Ada lagi yang menarik dari Media Partner acara pesta kopi yaitu Kopikini.com yang memberikan kenang-kenangan berupa foto yang dicetak dengan frame Pesta Kopi Mandiri. Caranya pertama kamu ambil foto selfi di area pesta kopi, kemudian kamu upload ke instagram dengan menambahkan hashtag #ngopidimuseum. Untuk setiap foto yang diupload akan diberikan frame oleh staf Kopikini.com dan kemudian dicetak berwarna untuk kamu bawa pulang. Menarik bukan?
Advertisements

Beatles Coffee Shop

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan mengunjungi negeri Ratu Elizabeth. Sebuah negera di benua ‘biru’ Eropa yang selama ini hanya dikenal lewat media cetak dan televisi. Negara berbentuk monarki konstitusional ini merupakan negara yang memiliki pengaruh yang besar dalam kancah politik, ekonomi, sosial dan budaya di tingkat internasional. Ketika jaman kolonialisme, negara ini memiliki daerah jajahan yang tersebar ke seluruh benua. Karena itulah pengaruh bahasa dan budaya Inggris cukup mendominasi pada negara lain, terutama pada negara-negara bekas jajahan Inggris atau yang biasa kita kenal sebagai negara persemakmuran. Ada satu ungkapan mengenai daerah kekuasaan Inggris pada jaman kolonial, yaitu “Di daerah jajahan Inggris matahari tidak pernah terbenam”. Suatu ungkapan yang sepertinya berlebihan tetapi benar adanya.

Beatles Coffee Shop

Salah satu pengaruh budaya pop dari Inggris yang sangat luas adalah musik. Inggris mempunyai banyak musisi kelas dunia. Berbagai aliran musik disana menyebar ke pelosok dunia dan banyak mempengaruhi musisi lain hampir di tiap negara. Sebut saja legenda musik Inggris yang selalu abadi The Beatles. Grup musik asal kota Liverpool ini dimotori oleh empat personil John Lennon, Paul McCartney, George Harrison dan Ringo Starr. Pada masa debutnya grup ini pernah mengalami pergantian personil sampai akhirnya dengan formasi empat personil diatas, mereka menguasai panggung dan blantika musik dunia musik.

Pada jaman bapak-ibu kita dulu musik Rock and Roll banyak diminati. Dan bisa dipastikan mereka mengenal grup musik asal Liverpool ini. Banyak dari mereka yang masih tetap menjadi fans pada masa sekarang ini. Masih sering kita saksikan pertunjukan di televisi atau panggung hiburan para musisi yang membawakan lagu-lagu The Beatles bahkan lengkap dengan kostum dan atribut-atribut menyerupai empat dewa musik dari Liverpool tersebut. Tidak jarang kita jumpai anak-anak muda yang generasinya jauh berbeda menjadi penggemar musik The Beatles.

Di kedai ini Mark dibantu satu tenaga wanita

Kenapa saya berputar soal The Beatles diatas ? Sepertinya kurang relevan dengan sebagian besar isi blog ini. Tapi nanti dulu, saya akan sampaikan pengalaman berharga saat berkunjung ke negari Pangeran Charles ini. Apa lagi kalau bukan pengalaman nongkrong dan mencicipi Americano di kedai kopi di Kota London. Kedai ini bernama The Beatles Coffee Shop. Jadi sudah mulai nyambung antara cerita grup musik The Beatles dengan mainstream konten blog yang kita cintai ini (narsis… he he he). Pemilik kedai ini adalah Richard Porter bersama istrinya Irina Porter. Kedunya penggemar berat The Beatles yang mempunyai bisnis lain yang masih terkait dengan urusan The Beatles yaitu travel agent. Mereka memadukan bisnis kedai kopi dan memberikan jasa paket city tour kepada para penggemar The Beatles yang berkunjung ke London. Richard dan Irina Porter akan membawa para fans ini keliling kota London dan mengunjungi tempat bersejarah dimana para personil The Beatles pernah melakukan kegiatan bermusiknya. Napak tilas perjalanan The Beatles akan di guide langsung seperti mengunjungi Studio Apple Records (sudah ganti nama menjadi EMI Records dan terakhir Abey Road Studios), merasakan sensasi menyeberang zebra cross di Abbey Road, berkunjung ke rumah personil The Beatles dan tentu saja nongkrong di kedai kopi mereka.

I am your barista

Beatles Coffee Shop terletak di stasiun kereta St. Johns Wood. Untuk mencapai kedai kopi ini cukup mudah, dari pusat kota London kita dapat memulai perjalanan dari stasiun kereta bawah tanah (Underground Station) Paddington. Tiket kereta dapat dibeli untuk satu kali perjalanan atau untuk satu hari penuh. Tiket satu hari penuh bisa digunakan untuk segala arah tujuan di London selama jam operasional. Dari stasiun Paddington tinggal melihat petunjuk arah menuju St Johns Wood Station. Bagi pendatang yang baru berkunjung ke London saya kira tidak cukup sulit untuk berpergian dengan trasnportasi massal ini, sebab semua petunjuk dipasang cukup jelas. Apalagi kalau sempat browsing dulu di internet maka sudah ada bayangan dikepala untuk menempuh perjalanan seputar kota London. Terlebih lagi kita bisa mendapatkan peta perjalanan gratis di lobby hotel atau stasiun kereta besar seperti Paddington ini.

Sampai di St Johns Wood station kita dengan mudah segera ketemu dengan The Beatles Coffee Shop. Posisinya terletak pas di pintu keluar-masuk stasiun dan punya ciri yang sangat jelas seperti tulisan besar di etalasenya Beatles Coffee Shop. Siapa kira kedai ini ukurannya kecil tidak seperti yang saya bayangkan. Rata-rata ukuran coffee shop di Jakarta 5×10 atau lebih kecil sedikit, tapi Beatles Coffee Shop ini lebih kecil lagi. Ruangannya sudah dipenuhi dengan meja untuk meletakan mesin espresso dan sovenir The Beatles seperti T-Shirt, gantungan kunci, video vcd/dvd dan kalendar bergambar The Beatles. Tidak ada meja didalam untuk minum kopi, semua pelanggan beli take a way atau minum di luar yang sudah tersedia meja kursi. Tidak ada makanan berat yang dijual, kedai ini hanya menyediakan aneke resep kopi dan snack serta sovenir.

Tiba-tiba Mark muncul dibelakang jendela menunjukan gambar personil The Beatles

Saya sempat berkenalan sama Barista disana, namanya Mark. Dia dibantu oleh satu orang lagi perempuan. Keliatannya tidak ada lagi selain mereka yang bekerja di kedai ini. Tugas mereka selain melayani pembeli, mereka sendiri yang membuka kedai dipagi hari dan memembersihkan kedai pada saat closing. Mereka akan tutup kedai pada pukul 20.00 GMT.

Dari obrolan saya dengan Mark, ternyata dia bukan orang Inggris tulen. Dia pendatang dari Spanyol dan sangat menggemari musik The Beatles. Mark cukup ramah kepada pelanggan dan suka bercerita tentang kedainya. Menurut Mark, jauh sebelum Richard Porter menjalankan bisnis kedai ini, ternyata The Beatles Coffee Shop pernah dimiliki oleh seorang fotografer. Kemudian setelah sang fotografer menjalankan bisnis lain, maka Richard Porter yang membeli kedai ini. Katanya fotografer inilahyang mengambil foto John Lennon cs sedang menyeberangi zebra cross untuk sampul album The Beatles “Abey Road”.

Napak tilas menyeberang di zebra cross abey Road

Lokasi kedai juga tidak jauh dari jalan Abbey Road yang punya sejarah tersendiri bagi penggemar The Beatles. Setiap tahun ada sekitar 200 ribu orang yang menyeberang sambil mengambil foto sebagai kenangan. Tidak jauh dari jalan terdapat CCTV yang memantau arus lalulintas dan penyeberang jalan. Konon rumah Paul McCartney berada tidak jauh dari jalan antara Abey Road dan The Beatles Coffee Shop. Mark menceritakan tentang rumah ini tetapi dia tidak mau menunjukkan pastinya yang mana dari deeretan rumah di jalan itu yang milik Paul. Dengan alasan privasi, rumah Paul tidak pernah dipublikasikan.

Begitu ceritanya ketika saya mendapat kesempatan nongkrong di kedai terkenal ini. Suatu saat kalau ada pembaca yang datang ke London, saya sarankan untuk mampir ke kedai ini. Tentu saja masih banyak tempat-tempat menarik lainnya seperti Westminster Bridge, Lodon Tower, Titik Nol zona waktu dunia (GMT) di Greenwich dan juga stadion klub sepak bola dunia seperti Stamford Bridge (Chelsea) dan Emirates Stadium (Arsenal).

Ankara Kota Bersejarah

Kunjungan ke Ankara dibulan April lalu telah memberikan sejumlah ide bagi saya untuk menuliskan pengalaman selama tinggal beberapa hari disana. Untuk saat ini saya hanya menyajikan tentang kesan-kesan Kota Ankara yang sangat menarik. Selain dikenal sebagai kota bersejarah, Ankara juga dikenal sebagai pusat pemerintahan dan merupakan kota bagi kantor–kantor perwakilan asing seperti Kedutaan Besar dan kantor perdagangan di Turki. Disisi lain Ankara terus berkembang dengan transisi menjadi kota perdagangan dan Industri.

Bendera Turki

Masih ada hal lain yang ingin saya tulis tentang Turki. Dan insya allah kalau ada kesempatan menulis, saya akan share buat pembaca sekalian, khususnya bagi yang tertarik dengan beberapa icon negara ini (baca: kopi turki, kerajinan tangan dll).

Sejarah Singkat

Dahulu kota Ankara merupakan daerah yang tertinggal, sebelum akhirnya dipilih menjadi Ibu Kota negara pada tahun 1923. Mustafa Kemal Ataturk, pendiri negara Turki yang beraliran sekuler mempunyai pemikiran dan strategi kenapa harus memilih Ankara sebagai ibu kota. Pemikiran tersebut antara lain dengan memperhatikan kondisi geografisnya yang berada pada posisi strategis di tengah-tengah negara Turki tepatnya di daerah Anatolia. Mustafa Kemal Ataturk telah berhasil membawa Ankara yang tadinya merupakan daerah tertinggal dengan jumlah penduduk sekitar 30.000 menjadi daerah yang maju dan moderen saat ini dengan penduduk berjumlah 4,6 juta jiwa.

Masjid yang berdekatan dengan komplek Istana Presiden

Ankara menjadi kota yang sangat penting bagi perdagangan dan industri. Pemerintah Turki  menjadikan Ankara sebagai pusat pemasaran yang dikelilingi oleh daerah pertanian serta dihubungkan oleh jalur transportasi seperti jalan raya dan jaringan rel kereta api. Jalur transportasi ini menghidupkan perekonomian  dan mobilitas penduduknya.

Sama seperti kota bersejarah lainnya, Ankara mempunya banyak nama. Pada abad ke 12 sebelum masehi, kota ini bernama Ankuwash. Kemudian pada jaman Romawi kota ini diberi nama Ancyra. Dan pada jaman kekuasaan Byzantium kota ini dikenal dengan nama Ankyra yang artinya Jankar dalam bahasa Yunani. Orang-orang Eropa menyebutnya Angora sampai pada masa kerajaan Seljuk yang dimulai pada tahun 1073 masehi dan berlanjut secara internasional. Dan pada akhirnya Mustafa Kemal Ataturk secara resmi memberi nama Ankara pada tahun 1930 sampai sekarang.

Iklim

Kota Ankara memiliki empart musim karena berada pada posisi daerah sub tropis. Pada musim dingin kota ini beriklim sejuk dan bersalju karena berada pada dataran tinggi. Sedangkan pada musim panas iklimnya terasa panas dan kering. Hujan biasanya turun selama musin semi dan musim gugur. Karena posisinya berada pada dataran tinggi, maka ketika malam hari dimusim dingin dan musim panas hawanya terasa sangat dingin.

Park Hotel tempat saya menginap

Ketika saya menginap di Park Hotel pada bulan April, iklim dikota Ankara sudah masuk pada musim gugur. Terlihat batang dan ranting pohon yang tumbuh tanpa daun, kecuali tanaman sejenis cemara dan rerumputan yang masih hijau. Ketika tidur pada malam hari, suhu dikamar terasa sangat dingin dan saya menggunakan selimut tebal untuk menjaga agar badan terasa hangat.

Mata Uang

Mata uang Turki adalah Lira yang secara resmi disebut sebagai Turkish Lira (simbol mata uangya TL, sedangkan menurut standar ISO 4217 kode mata uang Turki adalah TRY). Negara lain yang menyebut mata uangnya lira adalah Italia, sehingga disebut sebagai Italy Lira. Turkish Lira dibagi menurut pecahan 100 kurus (cents).

Uang kertas (fiat money) dalam mata uang TL tersedia dalam pecahan 5 TL, 10 TL, 20 TL, 50 TL, 100 TL dan 200 TL. Sedangkan uang dalam bentuk koin tersedian pecahan 1 TL, 50 kurus (kr), 25 kr, 10 kr, 5 kr dan 1 kr.

Penduduk Turki (Ankara)

Penampilan fisik orang Turki sangat mirip dengan orang-orang Eropa kebanyakan. Mereka memiliki kulit berwana putih, rambut pirang dan berhidung mancung. Ada juga yang berambut hitam dan berkulit putih kekuningan. Tinggi badan rata-rata seperti tinggi badannya orang Asia Tengah. Kebanyakan dari mereka adalah keturunan dari hasil perkawinan bangsa mongol dan penduduk lokal (asimilasi) yang terjadi pada masa kejayaan Mongol kira-kira pada tahun 1206 masehi dimana pada masa itu kerjaan Mongol mempunyai daerah taklukan yang menjangkau sampai ke wilayah Eropa timur (Polandia, Russian dsb).

Semir sepatu sambil difoto

Mayoritas masyarakat Turki beragama Islam dan jumlahnya kurang lebih 98%. Walaupun Republik Turki adalah negara sekuler, kita dapat mendengarkan suaran kumandang azan sebanyak lima kali dalam sehari dari speaker masjid. Paham sekuler yang dimulai sejak awal berkuasanya Mustafa Kemal Ataturk pada tahun 1920-an masih bertahan sampai saat ini. Karena mayoritas kelompok militer di Turki masih mempertahankan paham sekuler. Tidak ada peluang bagi rakyat yang akan membawa simbol-simbol keagamaan dalam penyelenggaraan kenegaraan. Tetapi baru pada masa pemerintahan Presiden  Abdullah Gul dan Perdana Menteri Recep Tayip Erdogan lah yang membongkar tradisi. Dimana perempuan berjilbab dapat masuk ke istana dan mengikuti acara kenegaraan. Dan sebagai bentuk protes dari kalangan militer, mereka memilik walk out meninggalkan istana.

Dari pengamatan saya terhadap penduduk Ankara, mereka adalah orang-orang yang ramah dan bersikap baik kepada pendatang. Terlihat dari cara mereka memperlakukan orang asing seperti saya dengan penuh keakraban dengan berjabat tangan dan menepuk bahu dengan hangat. Dan sikap mereka yang peduli pada siapapun dan mau membantu pada saat kita minta bantuan.

Rekan saya Pak Dadang dan Mr. Nurachman

Saya teringat ketika membeli makanan untuk dibawa ke hotel. Saya katakan kepada guide saya Mr. Nurachman, bahwa saya kepingin makan ikan dan nasi. Sebab saya sudah beberapa kali makan kebab yang membuat lidah terasa bosan. Guide saya yang orang Turki dan bisa berbahasa Indonesia ini tak segan membawa saya ke toko penjual ikan. Dan dia yang menawar harga kepada penjual agar saya mendapat harga murah. Padahal sangat jarang ada toko ikan di Ankara yang menjual dan bisa sekaligus memasaknya, kecuali di restoran mahal.  Tapi Guide saya berusaha agar saya tidak perlu ke restoran yang mahal, sebab menurut orang Turki sendiri harga-harga di Turki termasuk mahal,  apalagi kalau saya membandingkan dengan harga-harga di Jakarta. Tetapi kami harus berkeliling dengan mobil sampai akhirnya kami menemukan juga toko ikan tersebut.

Foto bareng tukang ikan

Kesan saya yang lain tentang orang Turki ini adalah, pada umumnya mereka cukup relijius. Ketika pertamakali berkenalan dengan pemilik toko, tukang semir sepatu atau penjual makanan di jalan, saya katakan bahawa saya berasal dari Indonesia mereka langsung meberi salam Assalmualaikum. Dan entah kebetulan atau tidak, ketika masuk ke sebuah toko handicraft si penjual menanyakan apakah saya muslim ? karena ketika berkenalan sebelumnya sudah saya sebutkan bahwa saya berasal dari Indonesia. Dan ketika saya jawab bahwa saya muslim, maka si penjual menjabat erat tangan saya dan menawarkan tempat ditokonya untuk sholat. Sementara tanganya tidak lepas dari tasbih yang dipakai untuk berzikir. Demikian juga ketika bertemu dengan orang yang menyemir sepatu, mereka cukup ramah dan menyuruh saya untuk mengambil foto karena mereka melihat saya menggatungkan kamera di leher. Sambil sepatunya disemir dia berpose dan tanggannya juga memegang tasbih.

Jadi walaupun negara sekuler, kepribadian dan kebiasaan mereka sangat baik dan cukup religius. Secara fisik mereka memang seperi orang barat (Eropa), tetapi dalam berinterkasi dan kebiasaannya mereka tetap saja seperti orang timur.

Perjalanan Ke Ankara



Saya harus tiba di bandara Sukarno Hatta pada pukul 23.00 WIB karena harus check in dua jam sebelum keberangkatan. Mengingat karakter lalulintas Jakarta yang sering diluar perkiraan, kemacetan bisa saja terjadi pada malam hari apalagi selesai turun hujan. Saya tidak mau ambil resiko karena sudah terlanjur membeli tiket ekonomi terendah, bisa saja airline mengenakan biaya tambahan dengan alasan no show atau ketinggalan pesawat di konter check in. Sehingga saya harus rebooking tiket kembali untuk hari berikutnya.

Armada Qatar Airways

Syukurlah saya bisa tiba jam 23.45 WIB dan langsung menuju konter check in. Saya menggunakan Qatar Airways yang terbang setiap hari dari Jakarta pada jam 01.00 WIB. Perjalanan kali ini dalam rangka melaksanakan tugas di Ankara Turki. Disana saya dan teman-teman akan mengadakan pertemuan dengan badan investasi Turkey “Investment Support and Promotion Agency” (ISPAT). Saya akan bertemu dengan orang-orang yang bertanggung jawab dalam pengembangan dan pengelolaan media promosi seperti website dan media elektronik. Selain diskusi kami juga menjalin kerjasama secara informal dalam pertukaran informasi penanaman modal.

Pesawat Airbus A330-300 Qatar Airways take off jam 01.00 WIB dinihari menuju Doha. Menurut rencana, perjalanan akan ditempuh selama kurang lebih 9 jam 35 menit. Pesawat akan tiba di Doha International Airport pada jam 05.35 waktu setempat. Ada selish waktu sekitar 4 jam antara Jakarta dan Doha, dimana waktu Jakarta lebih cepat. Selanjutnya saya akan melanjutkan perjalanan menuju Ankara setelah transit di Doha sekitar 3 jam 10 menit.

Melihat aktivitas bandara dari jendela

Selama perjalanan 9 1/2 jam itu penumpang dihidangkan makanan dan minuman. Layanan ini sama seperti layanan airline lain yang memberikan layanan full service pada rute lokal maupun internasionalnya. Untuk mengurangi kejenuhan disediakan juga perangkat hiburan musik dan video pada setiap kursi penumpang. Qatar Airways punya semboyan the five stars airline, sehingga untuk urusan makan, minum dan hiburan sudah tentu terjamin. Tapi entah kenapa saya merasa kurang pas dengan rasa (taste) masakannya. Walaupun menu yang disajikan masakan mewah tapi terasa lain dilidah. Bisa jadi karena terbiasa dengan nasi uduk jakarta, begitu makan nasi uduk (baca: dalam daftar menu tertulis “coconut rice“) di pesawat Qatar Airways menjadi terasa aneh. Mungkin karena kokinya punya pengalaman dan metode masing-masing dalam membuat masakan. Meski begitu saya makan juga nasi uduk itu agar tidak mubazir.

Waktu terbang pada malam hari membuat rasa kantuk sulit untuk ditahan. Karena kelelahan akibat aktivitas pada siang hari, akhirnya saya tertidur beberapa saat. Beda rasanya dengan tidur di rumah, karena pesawat tiba-tiba mengalami goncangan. Kejadian ini cukup sering, terutama ketika melintas diwilayah Srilanka dan selatan India. Kualitas tidur yang kurang nikmat ini saya kira bisa dibayar pada saat tiba  di Doha. Sampai akhirnya pesawat mendarat, saya dan teman-teman harus transit dan menunggu pesawat berikutnya. Tapi tetap saja saya tidak bisa tidur, karena suasana bandara yang ramai.

Jadwal Penerbangan Doha International Airport

Pukul 08.45 saya terbang lagi dengan pesawat Airbus A319 Qatar Airways. Berbeda dengan pesawat sebelumnya yang berbadan lebar, dengan pesawat yang lebih kecil ini guncangan lebih terasa. Beruntung cuaca selama dalam perjalanan dari Doha ke Ankara dalam kondisi baik. sekali-sekali ada guncangan karena peawat memasuki ruang hampa dalam sekumpulan awan besar. Dengan mengucap syukur alhamdulillah akhirnya saya dan teman-teman tiba dengan selamat di Esenboga International Airport di Ankara pada jam 12.40 waktu setempat. Tidak ada perbedaan waktu antara Doha dan Ankara. Selamat datang di Ankara yang cukup dingin dengan suhu 7 derajat celsius.
-zt-

Ankara, 6 April 2011

Teraskota di BSD City

Memasuki weekend kedua di bulan Februari, istri saya mengajak jalan-jalan ke daerah Bumi Serpong Damai (BSD) City. Sekalian juga membawa anak-anak menikmati libur sekolah diakhir pekan dengan berenang di Ocean Park.

Teraskota BSD City Serpong (foto: rumah.com)

Sudah lama juga rasanya tidak pernah melewati daerah BSD yang mempunyai konsep sebagai kota baru yang moderen. Kalau dihtung-hitung sudah tiga tahun lebih daerah ini tidak pernah saya datangi. Dan kini terlihat sekali perbedaannya kalau dibandingan dengan kondisinya pada saat tiga tahun silam. Kota ini menawarkan segala macam produk dan jasa dengan ciri khas moderen. Berbagai macam fasilitas mulai dari rumah sakit, pusat pendidikan, pusat perbelanjaan, gedung perkantoran, hotel, fitness center, restoran dan objek wisata semuanya tersedia. Semua terkemas secara dominan menjadi bentuk pelayanan (service). Jadi BSD City bukanlah suatu tempat yang menjadi basis produksi barang atau komoditi.

Salah satu tempat yang baru pertama kali saya datangi sejak tiga tahun terakhir adalah Teraskota yang terletak di Jalan Pahlawan Seribu, CBD Lot VII B, Lengkong Gudang Serpong, BSD City. Karena lokasinya yang berdekatan dengan Ocean Park, mungkin secara naluri saya lebih memilih tempat ini. Karena selesai berenang, anak-anak pada kelaparan dan ternyata di Teraskota sebagai tempat belanja dan hiburan adalah juga tempat yang pas buat cari makan.

Plaza Teraskota (foto: sunsetmood.web.id)

Sama seperti pusat-pusat perbelanjaan ditempat lain, pengunjung sangat ramai untuk mencari barang kebutuhan atau sekedar jalan-jalan diakhir pekan. Apalagi pada saat itu adalah hari Sabtu malam Minggu dan bertepatan dengan disiarkannya Liga Inggris antara Manchester United melawan Manchester City. Saya pun ikut-ikutan terbawa arus yang disemagati oleh sa lesteam dari sebuah perusahaan rokok untuk nonton bareng liga yang ditayangkan memakai layar lebar di plaza Teraskota.

Sebagai pusat belanja yang diresmikan (soft opening)  pada tanggal 8 Agustus 2009, Teraskota memiliki konsep one stop service, dimana pengunjung dapat menikmati aktivitas belanja sepuasnya dan ketika lelah atau merasa lapar mereka dapat dengan mudah mendatangi tempat nongkrong yang nyaman sambil memesan  makanan sesuai selera. Bahkan pengunjung bisa menginap di sebuah hotel yang lokasinya menyatu dengan Teraskota.

Wisata belanja dan kuliner di Teraskota secara kasat mata memang ditujukan bagi kalangan menengah. Kita bisa lihat dari brand-brand yang terpampang pada pintu masuk setiap took adalah brand terkenal. Belum lagi melihat harga pada label barang dan daftar menu di café atau restoran yang menjadi mahal karena biaya sewa tempat dan pajak. Saya kira ini cukup fair karena pengunjung dapat menikmati layanan dan produk yang sebanding.

Teraskota Dari Muka (foto:indexproperty.net)

Melihat perkembangan daerah Serpong dengan BSD City-nya, saya merasakan suasana yang berbeda. Suasana yang sangat kental dengan ciri khas kemoderannya. Bukan mustahil dalam 5-10 tahun kedepan, kota ini bisa menyerupai Singapura. Dalam artian sebagai sebuah kota moderen yang dilengkapi dengan sarana dan prasaran fisik yang berkualitas dan sangat nyaman.

-zt-

Serpong, 13 Februari 2011

Halo Kawan!

Selamat datang di Ordinary blog. Saat ini isi blog masih dalam penyempurnaan (pengumpulan bahan: data, gambar, tulisan dll) atauyang  lazimnya disebut UNDER CONSTRUCTION. Tapi selama dalam proses perbaikan tersebut blog ini tetap menampilkan setiap konten yang sudah selesai ditulis.  Dan anda dapat memberikan komentar atau melakukan sharing pada setiap halaman yang ditampilkan.

Akhirnya dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan terimakasih kepada siapa saja sudah berkunjung ke blog ini.

 

Salam untuk Indonesia !